Kenapa Pondok Pesantren Masih Relevan di Era Digital?

Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara belajar dan memperoleh informasi. Akses ilmu kini semakin mudah melalui internet, media sosial, dan platform pembelajaran daring. Di tengah kondisi tersebut, muncul anggapan bahwa pondok pesantren dengan sistem pendidikan tradisional sudah tidak lagi relevan.

Namun, jika ditinjau secara faktual, pondok pesantren justru masih memiliki peran penting dalam sistem pendidikan Indonesia, bahkan di era digital.

1. Pondok Pesantren Diakui dalam Sistem Pendidikan Nasional

Secara hukum, pesantren diakui sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, yang menyatakan bahwa pesantren memiliki fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Pengakuan ini menunjukkan bahwa pesantren bukan lembaga pendidikan informal semata, melainkan institusi resmi yang berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

2. Pendidikan Karakter sebagai Fokus Utama

Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa tantangan besar di era digital bukan hanya literasi teknologi, tetapi juga krisis karakter, seperti menurunnya etika berkomunikasi, rendahnya disiplin, dan lemahnya tanggung jawab sosial.

Pondok pesantren sejak awal menempatkan pendidikan karakter (akhlak) sebagai inti pembelajaran. Nilai seperti kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan adab terhadap guru serta sesama santri diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya diajarkan secara teoritis.

3. Pembiasaan Disiplin dan Kemandirian

Sistem kehidupan di pondok pesantren menuntut santri untuk mandiri dan disiplin. Jadwal kegiatan yang teratur mulai dari bangun pagi, shalat berjamaah, belajar, hingga istirahat melatih manajemen waktu dan tanggung jawab pribadi.

Keterampilan ini relevan dengan kebutuhan abad ke-21, di mana individu dituntut mampu mengatur diri sendiri di tengah kebebasan dan fleksibilitas era digital.

4. Pesantren dan Adaptasi Teknologi

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak pesantren telah beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Saat ini, tidak sedikit pesantren yang:

  • menggunakan media digital untuk pembelajaran,
  • mengelola dakwah melalui media sosial,
  • memanfaatkan teknologi untuk administrasi dan publikasi,
  • mendorong santri menulis, berdiskusi, dan berkarya secara digital.

Hal ini membuktikan bahwa pesantren tidak menolak teknologi, melainkan mengintegrasikannya dengan nilai-nilai moral dan keagamaan.

5. Lingkungan Sosial yang Membangun Empati

Berbeda dengan pembelajaran daring yang cenderung individual, kehidupan di pondok pesantren menekankan interaksi sosial secara langsung. Santri hidup bersama dalam satu lingkungan, belajar bekerja sama, menyelesaikan konflik, dan menghargai perbedaan.Kondisi ini relevan di tengah meningkatnya fenomena isolasi sosial dan rendahnya empati akibat interaksi digital yang minim tatap muka.

Berdasarkan tinjauan faktual, pondok pesantren masih relevan di era digital karena perannya tidak hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter, disiplin, dan kepribadian sosial.Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, pesantren hadir sebagai penyeimbang mengajarkan bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai, adab, dan jati diri.

Editor: Fatma Russy [Media HM Al inaaroh 2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Sekolah Lainnya

Pengumuman

📢 PENGUMUMAN BALIK PONDOK 📢
Masa Penerimaan Santri Baru 2025

Prestasi

Lomba MQK Fathul Qorib
Juara harapan 2 MQK Fa...